Tampilkan postingan dengan label AMERIKA SERIKAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AMERIKA SERIKAT. Tampilkan semua postingan

Obama Menolak Mengutuk Israel, Malah Mengecam Hamas

Barack Obama, presiden AS, boneka Zionis Israel
Barack Obama, presiden AS, boneka Zionis Israel

Obama malah mengutuk kelompok Palestina karena membunuh tentara Israel.

"Saya pikir sangat penting untuk dicatat bahwa kita memiliki, dan saya, tegas mengutuk Hamas dan faksi Palestina yang bertanggung jawab atas pembunuhan dua tentara Israel dan menculik yang ketiga beberapa menit setelah gencatan senjata telah diumumkan," kata Obama di ruang briefing Gedung Putih di Washington, Jumat (1/8/14).

Presiden AS juga mendesak Hamas berkomitmen untuk gencatan senjata.

"Saya pikir itu akan sangat sulit untuk menempatkan gencatan senjata kembali bersama-sama lagi jika Israel dan komunitas internasional tidak dapat merasa yakin bahwa Hamas dapat menindaklanjuti komitmen gencatan senjata," katanya.

Presiden Obama berjanji Amerika Serikat akan terus bekerja sama dengan Tel Aviv bagi memungkinkannya untuk melindungi diri terhadap pejuang perlawanan Palestina.

Anggota parlemen Amerika telah menyetujui RUU untuk menyediakan $ 225 juta bantuan darurat untuk sistem rudal Iron Dome untuk Israel.

Pada hari Jumat (1/8), Senat bergegas menyepakai undang-undang untuk memberikan uang untuk sistem rudal Iron Dome Israel.

Sementara itu, Senator Republik Lindsey Graham mengatakan pemungutan suara Senat adalah sinyal untuk Tel Aviv bahwa Washington di sana ketika Israel membutuhkannya.

Pentagon sebelumnya mengumumkan pengiriman amunisi ke Israel.

Israel telah terus-menerus menggempur wilayah terkepung selama 25 hari. Lebih dari 1.600 warga Palestina telah tewas dan ribuan terluka, termasuk perempuan dan anak-anak.

Sebagai pembalasan, pejuang Palestina telah menembakkan roket ke Israel.

Israel dan Hamas telah sepakat untuk gencatan senjata tanpa syarat 72 jam yang mulai berlaku pada hari Jumat (1/8). Namun, sumber Palestina mengatakan pasukan Israel melanggar gencatan senjata segera setelah itu mulai berlaku, menewaskan empat orang di kota Rafah selatan Gaza.

Evo Morales: "AS Hasut Perang Sipil di Venezuela demi Minyak"

Evo Morales
Evo Morales

Rezim Washington mendorong Venezuela ke dalam "perang saudara" karena menginginkan akses pada cadangan minyak yang kaya di negara itu, demikian peringatan yang disampaikan Presiden Bolivia Evo Morales. Pemerintah Venezuela juga menuduh AS mengobarkan kudeta.

Di hadapan lebih dari 3000 kawula muda di Pertemuan Puncak Generasi Muda se-Amerika Latin di Santa Cruz, Bolivia, Morales menyebutkan bahwa "kekaisaran" AS sedang mengincar kekayaan minyak Venezuela. Morales mengatakan bahwa Presiden Venezuela Nicolas Maduro tidak bersalah dalam gelombang baru kerusuhan di negara itu seraya menuduh Washington mendalangi perang saudara.

"Saya yakin kerajaan [AS] berupaya menghasut, kalau bukan kudeta, maka perang saudara," kata Morales. "Mereka akan selalu mensponsori konflik internal sehingga dapat mengganggu dan menyerang kita untuk mengendalikan cadangan minyak kita."

Dunia membutuhkan "para pemuda anti-imperialis, anti-kapitalis, dan anti-kolonial," kata Morales, seraya mendesak warga Amerika Latin untuk berdiri bersama dalam solidaritas untuk Venezuela. Morales mengatakan tidak terdapat bahaya kudeta di Bolivia sejak pemerintah mengusir Duta Besar AS Phillip Golberg pada 2008 karena dituduh berkomplot untuk menggulingkan pemerintah.

Venezuela telah dicengkeram gelombang protes anti-pemerintah sejak Februari 2014 lalu, yang telah menewaskan sedikitnya 41 orang dan melukai lebih dari 600 lainnya. Pemerintah Venezuela mengakui hak rakyat berunjuk-rasa, namun menuduh kaum ekstrimis sayap kanan dukungan asing telah membajak aksi protes untuk melengserkan Maduro.

Saat ini, pemerintah Maduro sedang berdialog dengan beberapa anggota gerakan oposisi untuk berupaya menemukan solusi damai atas konflik tersebut. Para penentang pemerintah mengeluhkan bahwa Venezuela mengalami inflasi besar-besaran dan kekurangan produk makanan pokok, serta pemadaman listrik yang acap terjadi.

Sementara itu, Maduro mengumumkan pekan lalu bahwa Venezuela sedang menghadapi "perang ekonomi" dan pemerintahannya bertekad memukul balik dengan "serangan" baru untuk memerangi kapitalisme. Dia menetapkan tujuan utama inisiatif baru itu pada hari Senin lalu, termasuk menngkatkan pasokan dan produksi serta stabilisasi harga di Venezuela.

"Serangan ekonomi baru ini harus menciptakan kesejahteraan bagi rakyat dan negara. Neoliberalisme berbicara pertumbuhan, namun pertumbuhan untuk siapa? Untuk mereka yang terus-terusan kaya, bukan untuk kaum tak berpunya," kata Maduro.

Sebelumnya, Maduro menuding Washington sebagai biang kerusuhan di Venezuela, seraya mengatakan bahwa AS mendalangi kerusuhan dengan maksud menggulingkan pemerintahannya. Pada bulan Maret 2014 lalu, Menteri Luar Negeri Venezuela, Elias Jaua, menuduh Menteri Luar Negeri AS John Kerry menghasut pembunuhan dan kekerasan di Venezuela. Dan memang itu yang terjadi.

Forer: Bantuan AS 'Uang Darah' untuk Gaza

Bom Fosfor Zionis Israel di Gaza
Bom Fosfor Zionis Israel di Gaza

Seorang aktivis anti-perang dan pekerja bantuan kemanusiaan Amerika mengatakan, setiap bantuan AS pada masyarakat Gaza tak lain "uang darah" karena Washington terlibat dalam kejahatan Zionis terhadap warga Palestina.

Richard Forer menyatakannya dalam wawancara telepon dengan Press TV, Selasa (22/7/14). Ia mengomentari janji terbaru Menteri Luar Negeri AS John Kerry memberi bantuan kemanusiaan sebesar $ 47 juta  untuk Palestina yang tengah menderita dalm bawah serangan udara dan darat Israel.

Menurut laporan, jumlah itu termasuk $ 15 juta untuk badan pengungsi Palestina PBB dan $ 32 juta dari US Agency for International Development (USAID) untuk memenuhi kebutuhan darurat warga Gaza.

"Saya senang masyarakat Gaza mendapatkan bantuan. Tapi $ 47.juta dari Amerika Serikat itu seperti uang darah bagi saya. Maksud saya, Israel tak mungkin menyerang Gaza dan melakukan apapun tanpa lampu hijau dari Amerika Serikat," kata Forer.

Janji Kerry memberi bantuan kemanusiaan untuk Gaza muncul setelah Israel mempertontonkan kekejaman brutal Israel Palestina dengan sokongan uang dan moral Amerika. Dalam kesepakatan 10 tahun dengan Israel yang ditandatangani tahun 2007, $ 3 miliar uang para pembayar pajak Amerika akan mengalir ke Israel dalam bentuk bantuan militer per tahunnya.

Pemerintahan Demokrat berkuasa dilaporkan mempertimbangkan peningkatan bantuan militer Washington untuk rezim Tel Aviv setelah 2017 ketika kesepakatan saat ini berakhir.

"Saya pernah membaca bahwa lebih dari 50 persen persenjataan militer Israel berasal dari Amerika. Dan cukup jelas bahwa Israel tidak akan menyerang Gaza tanpa izin Amerika Serikat...tanpa dukungan dari Amerika..." tambah Forer.

"Amerika terlibat dalam kejahatan perang [Israel] dan kejahatan terhadap kemanusiaan dan sekarang ingin membantu Gaza...ini munafik," jelasnya.

Partai Republik AS Serukan Pengeboman Situs Nuklir Iran

Michele Bachmann - Republican member of the House of Representatives.jpg
Michele Bachmann - Republican member of the House of Representatives.jpg

Seorang anggota Kongres dari Partai Republik AS menyerukan pengeboman situs nuklir Iran dan mengatakan, jika AS ragu maka Israel harus diizinkan untuk melakukannya.

Berbicara di pelataran Parlemen pada Selasa (22/7/14), Louie Gohmert mengatakan bahwa invasi Israel di Gaza berarti sudah tiba waktunya untuk mengebom Iran.

"Ini adalah waktu untuk mengebom kemampuan nuklir Iran. Sudah saatnya bagi Amerika Serikat. Jika kita tidak mau menghentikan nuklir Iran maka biarkan orang Israel melakukannya..." katanya.

Israel dan AS kompak menuduh Iran mengejar tujuan militer dalam program energi nuklirnya serta menjadikannya alasan untuk melakuksan serangan militer terhadap Republik Islam. Iran berulang kali membantah tuduhan itu sambil memperingatkan bahwa pihaknya akan melawan setiap tindakan agresi.

Gohmert menambahkan, AS harus menghentikan bantuan pada setiap negara yang memiliki hubungan dengan gerakan perlawanan Palestina Hamas.

"Sudah saatnya menghentikan setiap sen uang Amerika pada siapa saja yang memiliki hubungan dengan Hamas atau mereka yang membunuh di Timur Tengah, khususnya di Israel," katanya.

Iran dan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB plus Jerman telah menyetujui perpanjangan perundingan sampai 24 November nanti demi mencapai kesepakatan permanen yang akan mengakhiri perselisihan yang berumur satu dekade tentang program energi nuklir Iran.

Jenderal AS: Pentagon Punya Opsi Militer untuk Rusia

Gen. Martin E. Dempsey, Joint Chiefs of Staff.jpg
Gen. Martin E. Dempsey, Joint Chiefs of Staff.jpg

Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Martin Dempsey mengatakan Pentagon sedang melihat peluang sebuah opsi militer untuk tindakan Rusia di Ukraina.

Dalam pidatonya di Aspen Institute pada Kamis malam (24/7/14), Dempsey memperingatkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin "benar-benar telah menyalakan api" yang tidak bisa dikendalikan lagi.

Dempsey membuat pernyataan itu setelah Departemen Luar Negeri menuduh Rusia menembakkan artileri dari wilayahnya ke militer Ukraina.

"...Anda melihat pemerintah Rusia yang sengaja membuat keputusan menggunakan kekuatan militer di negara berdaulat lain untuk mencapai tujuannya. Ini pertama kalinya sejak 1939..."kata Dempsey.

Tapi Departemen Luar Negeri AS gagal mengajukan satu pun bukti tuduhannya. "Kami memiliki bukti baru bahwa Rusia berniat memberi peluncur roket ganda lebih berat dan lebih kuat untuk pasukan separatis di Ukraina. Dan kami memiliki bukti bahwa Rusia menembakkan artileri dari dalam Rusia untuk menyerang militer Ukraina," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Marie Harf, Kamis (24/7).

"Saya tidak bisa memberitahu Anda informasi apa yang mendasarinya," kata Harf.

Rusia sendiri membantah tuduhan tersebut. "Bukan untuk pertama kalinya kita mendengar tuduhan yang sama yang belum terbukti," kata juru bicara kedutaan Rusia di Washington.

Analis: AS Berpikir Dapat Memberlakukan Sanksi Terhadap Semua Negara

Analis: AS Berpikir Dapat Memberlakukan Sanksi Terhadap Semua Negara
Seorang analis dan profesor universitas Amerika mengatakan bahwa Washington berpikir Amerika Serikat dapat menjatuhkan sanksi kepada seluruh dunia, namun sekarang saatnya bagi masyarakat di seluruh dunia untuk menentang AS.

Pada hari Senin (28/4/14), pemerintahan Presiden AS Barack Obama mengumumkan putaran sanksi ketiga terhadap Rusia. Gedung Putih yang telah memberlakukan sanksi terhadap sejumlah pejabat Rusia dan bank Rusia, Rossiya Bank, dan saat ini tujuh pejabat senior Rusia dan 17 perusahaan terkait dengan Presiden Rusia Vladimir Putin juga akan menjadi target sanksi tersebut. "

Sementara itu, Obama telah mengancam Rusia bahwa sanksi AS di masa depan dapat menargetkan sektor-sektor kunci ekonomi Rusia, seperti jasa keuangan, energi, logam dan sektor pertambangan, teknik dan pertahanan. Namun Rusia telah berjanji untuk memberikan respon yang menyakitkan sebagai jawaban sanksi AS.

"Sayangnya, para pemimpin politik Amerika berpikir bahwa mereka dapat mengenakan sanksi kepada seluruh dunia. Merasa tidak cukup dengan membidik Iran, sekarang Washington berpikir mengapa tidak Rusia, mengapa tidak China, mengapa tidak negara lain ? " kata Paul Sheldon Foote, seorang profesor di California State University, dalam sebuah wawancara telepon dengan Press TV pada hari Senin (28/4/14).

Foote juga mengatakan bahwa sementara sanksi AS bisa mempengaruhi perekonomian Rusia sampai batas tertentu, negara lain, termasuk Amerika Serikat pun akan merasakan efek sanksi tersebut.

"Saya pikir sudah waktunya untuk masyarakat dunia untuk berbicara menentang Amerika Serikat, " tambah Foote. " Sudah waktunya untuk kembali ke situasi di mana kita memperlakukan setiap negara dengan hormat dan mengambil kebijakan win - win, bukan kebijakan yang melayani tujuan Zionis.

Margaret Kimberley: "AS Biang Kerok Semua Kekerasan Dunia"

Stop AS  (http://www.oocities.org)
Stop AS (http://www.oocities.org)

Amerika Serikat merupakan adidaya militer yang ekonominya sedang ambruk. Akibatnya, kebijakan luar negeri AS mirip mafia tukang peras yang "menawarkan perlindungan saat dirinya justru yang sebetulnya menjadi ancaman satu-satunya bagi para tetangganya". Si jail tua renta itu belum enyah dan harus dilawan.

Demikian ungkap analis sekaligus kritikus sengit kejahatan global AS, Margaret Kimberley. "Siapa yang akan berupaya mati-matian menghukum AS yang sejauh ini menjadi 'penyetor terbesar kekerasan di dunia hari ini'?" tanyanya.

AS dapat terus menjadi agresor terburuk dan paling ngotot di planet ini, lanjutnya, lantaran sebagian besarnya tak pernah membayar ongkos apapun bagi kejahatannya. "Pemerintah kami (AS) telah bertindak dengan kekebalan komplit, sekalipun telah membumihanguskan negera-negera seperti Irak, Haiti, dan Libya dengan kekuatan dan pendudukan militer," tegas Kimberley.

AS menyokong para proksinya untuk mengacaukan pemerintah terpilih di Venezuela dan menggagalkan keinginan rakyat di negara itu, paparnya. "AS juga merusak perekonomian Iran dengan sanksi keras dan sekarang berusaha melakukan hal yang sama terhadap Rusia," kata Kimberley.

Menurutnya, AS tak punya rasa malu saat menegaskan haknya untuk campur tangan di mana saja yang dipilihnya di planet ini, dan menghukum bangsa lain dengan keyakinan yang salah bahwa dirinya diizinkan bertindak demi kepentingan terbaik.

Pada 2003, lanjut Kimberley, AS menginvasi Irak dengan dalih membawa demokrasi dan mengenyahkan senjata pemusnah massal. "Tuduhan bahwa Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal telah terbukti sebagai kebohongan yang telanjang dan niat untuk menegakkan demokrasi hanyalah fabrikasi yang sama mengerikan. Anehnya, AS sama sekali tidak menderita atas tipudayanya atau perannya dalam membunuh ratusan ribu jiwa," ujarnya sinis.

Setelah AS campur tangan dalam menggulingkan presiden terpilih Ukraina, lanjutnya, Presiden Rusia Vladimir Putin langsung menarik garis merah di sekliling negaranya. "Karena Putin menantang para pengganggu, AS pun memutuskan untuk menghukumnya," imbuh Kimberley.

Negara-negara G8, ujarnya, kini menjadi G7 karena Inggris, Kanada, Jepang, Jerman, Italia, dan Perancis tunduk pada permintaan AS untuk menendang Putin keluar dari klubnya. "Pertemuan G8 yang menurut jadwal akan diselenggarakan Putin di Sochi, sekarang akan digelar di markas Uni Eropa di Belgia dan tak akan dihadiri Rusia untuk pertama kalinya sejak 1998," kata Kimberley.

Menurutnya, arogansi dan intimidasi AS yang mengerikan hanya selaras dengan sikap merendahkan diri sekutu-sekutunya, yang tak pernah berani mempersoalkan AS. "Mereka tentu dapat menggunakan logika yang sama untuk menendang AS keluar dari G8 menyusul invasi Irak, atau pendudukan Haiti, atau penghancuran Libya, atau penghancuran Suriah yang sedang berlangsung, namun kriminal besar itu terus melenggang tak terjamah," lanjut Kimberley.

Mereka, katanya, takut pada kekuatan AS sekaligus terlibat dalam kejahatannya. "Kemunafikan mereka selaras dengan kepengecutannya," sergah Kimberley.

Sayang, lanjutnya, AS terlanjur dipandang sebagai negara terkuat di dunia dan menggunakan kekuatan untuk menghancurkan siapapun yang berani menghalangi jalannya, dan Vladimir Putin adalah "setan" hari ini. "Pemerintahannya memberi suaka sementara bagi sosok buronan lain, Edward Snowden, yang melakukan tindak pidana mengungkap sejauh mana keamanan negara AS," papar Kimberley.

Saat Obama dan pemimpin NATO lainnya berusaha campur tangan secara langsung di Suriah dan menjadikan "pemberontak" mereka menang, katanya, Putin berdiri tegak di jalan mereka. "Saat NATO menggulingkan presiden Ukraina (tetangga Rusia) yang terpilih secara demokratis, Putin dengan tegas mengatakan pada NATO bahwa ia menolaknya dan tantangan itu menjadikannya sosok persona non grata ke AS dan negara-negara anteknya," terang Kimberley.

Siapa yang akan berusaha mati-matian menghukum AS? Di mana seruan boikot dan sanksi (terhadap AS)?

Tentu saja negara-negara G7 sering menjadi mitra dalam kejahatan AS, lanjutnya, namun mereka juga tahu bahwa predator yang terluka sangat berbahaya. "AS menghadapi krisis ekonomi konstan yang dibawa kapitalisme yang sedang runtuh dan menggunakan ototnya untuk menjaga pihak lain tetap berada dalam barisannya," ujar Kimberley.

Ini dapat mencegah negara-negara lain menanggalkan dolar sebagai mata uang cadangan atau menggunakan kemampuan mereka untuk menjual sumberdayanya namun tidak cukup lemah untuk ditentang tanpa konsekuensi serius.

Dalam bahasa populer, boleh dibilang, AS adalah "gangsta", mafia tukang peras, ujarnya. "AS menawarkan perlindungan saat dirinya justru yang sebetulnya menjadi ancaman satu-satunya bagi para tetangganya," lanjut Kimberley.

Rusia tak mengancam satupun negara G7. "Tak satupun dari mereka punya alasan untuk takut pada Putin; tapi mereka punya alasan untuk takut dikudeta dan dicaplok kecuali melangkah bersama AS," katanya.

Putin dihukum karena berusaha menghentikan kejahatan AS, lanjut Kimberley, sementara AS sendiri dihargai karena melakukan kejahatan. "Sanksi dan isolasi dimaksudkan untuk mengubah Rusia menjadi Iran yang lain, sebuah negara kaya energi yang tak mampu menjual sumberdaya energinya," paparnya. Pemenang utamanya tetap AS, yang akan menghancurkan para pesaingnya demi pengaruh di dunia.

AS juga membawa dunia menuju jurang kekerasan yang mematikan. "Bahkan di era perang dingin, hak prerogatif Uni Soviet diterima sebagai 'realpolitik' (kebijakan politik yang dilandasi kekuatan ketimbang gagasan) pragmatis," ujar Kimberley. Basa-basi itu tidak lagi dihormati dan campur tangan AS yang memang mencipta konflik sebagaimana dikhawatirkan, tidak banyak disadari di masa lalu.

Senat AS Ajukan Paket Bantuan $ 1 Milyar untuk Ukraina

Senat AS
Senat AS

Senat AS mengajukan RUU bantuan keuangan untuk Ukraina dan pemberian sanksi terhadap Rusia.

Para senator AS dengan 78 suara akhirnya memutuskan hal itu hari Senin (24/3/14). Sekitar 20 senator dari kubu Republik bergabung dengan kubu Demokrat dengan mendukung usulan tersebut.

"Isu paling penting adalah meluluskan UU ini sesegera mungkin. Isu-isu lain yang kurang penting [bisa dibahas] di kemudian hari," kata Senator John McCain menjelang pemungutan suara.

RUU itu akan memberi bantuan $ 1 milyar pada pihak berwenang baru di Kiev dan  $ 100 juta untuk 'mempromosikan demokrasi dan keamanan' di negara itu.

RUU yang didukung oleh Presiden AS Barack Obama itu bisa digolkan akhir pekan ini. RUU itu
juga akan menjatuhkan sanksi terhadap tokoh-tokoh yang diduga terlibat dalam reintegrasi Crimea ke Rusia baru-baru ini.

Sementara Moskow mengatakan sanksi yang dijatuhkan hanya akan mempersulit situasi.

Kelompok G8 juga mengancam akan meningkatkan langkah-langkah terhadap Rusia terkait krisis Ukraina. Dalam pernyataan yang dikeluarkan setelah pembicaraan krisis di Den Haag pada hari Senin (24/3/14), mereka siap mengintensifkan sanksi terkoordinasi terhadap Moskow. Mereka juga menyeru Rusia agar meredakan situasi politik yang memanas.

Bahkan G8 membatalkan rencana pertemuan di resor kota Laut Hitam, Sochi pada bulan Juni dan mengataka, mereka akan mengadakan pertemuan di Brussels tanpa Rusia. Dan G8 yang terbentuk tahun 1998 dan terdiri dari Amerika, Inggris, Kanada, Perancis, Jerman, Jepang, Italia dan Rusia menjadi G7 tanpa kehadiran Rusia.

Baru-baru ini, Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Eropa dan Eurasia, Victoria Nuland mengungkapkan bahwa Washington telah menginvestasikan sekitar $ 5 milyar dalam upaya 'mempromosikan demokrasi ' di Ukraina dalam dua dekade terakhir.

Obama Tekan Sekutu, Usir Rusia dari G-8

Presiden AS (frontpagemag)
Presiden AS (frontpagemag)

Perdana Menteri Inggris David Cameron, dalam sebuah pertemuan di Den Haag, menyatakan bahwa pertemuan G-8 yang dijadwalkan pada bulan Juni di Sochi, Rusia, benar-benar sudah jelas akan gagal.

Pernyataan itu merujuk pada kemarahan Barat atas kekalahan dalam kasus bergabungnya Crimea dalam Federasi Rusia berdasarkan hasil referendum konstitusional pekan lalu.

Namun Presiden Obama tampaknya sangat bernafsu melakukan perubahan besar dalam tubuh G-8. Sikap ini diberitakan Wall Street Journal dalam artikel yang berjudul "Obama Tekan Pihak Sekutu untuk Keluarkan Rusia dari G-8".

Tekanan itu disuarakan saat pasukan Ukraina sedang ditarik dari Crimea dan disebar ke sepanjang perbatasan utara, selatan, dan timur wilayah tersebut. Jumlah pasukan yang dikerahkan, menurut harian Ukraina, Parubiy, mencapai 10.000 prajurit. "David Cameron juga mengatakan bahwa pertemuan G-8 (di Sochi, Rusia) dibatalkan," lanjutnya.

'AS Habiskan Miliaran Dolar Hancurkan Demokrasi'

Ron Paul, Senator AS.jpg
Ron Paul, Senator AS.jpg

Mantan anggota Kongres AS, Ron Paul mengatakan Washington telah menghabiskan milyaran dolar uang pembayar pajak Amerika untuk menghancurkan demokrasi di negara-negara di seluruh dunia.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan hari Minggu (23/3/14), Paul  menyebut krisis baru-baru ini di Ukraina sebagai contoh baru campur tangan Washington dalam menghancurkan demokrasi.

"Dan apa yang akan didapatkan Ukraina? Demokrasi mereka telah dirusak oleh kudeta yang didukung AS di Kiev. Dalam demokrasi, kekuasaan ditransfer secara damai melalui pemilu, tidak direbut oleh pemberontak di jalan-jalan..." tulis Paul.

"Ini bukan demokrasi dengan mengirim milyaran dolar untuk mendorong perubahan rezim di luar negeri...dengan mengirim LSM untuk menulis kembali hukum dan konstitusi di tempat-tempat seperti Ukraina. Ini bukan urusan kita," tambahnya.

Paul juga menunjuk pidato Asisten Menteri Luar Negeri untuk Urusan Eropa dan Eurasia, Victoria Nuland, bahwa Washington telah "menginvestasikan" sekitar $ 5 milyar untuk "mempromosikan demokrasi" di Ukraina dalam dua dekade terakhir.

Paul mengatakan hal itu setelah mayoritas senator AS menyetujui bantuan keuangan untuk Ukraina dan menjatuhkan sanksi terhadap Rusia.