Tampilkan postingan dengan label RUSIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RUSIA. Tampilkan semua postingan

10 Pertanyaan Rusia Soal Jatuhnya MH-17 Pada Ukraina

Puing-puing bangkai pesawat (RT)
Puing-puing bangkai pesawat (RT)

Beberapa negara Barat dan rezim Kiev buru-buru menuding Rusia terlibat dalam kecelakaan MH17 tanpa didukung bukti-bukti yang mendukung. Demikian dikatakan Wakil Menteri Pertahanan Rusia, Anatoly Antonov, kepada Russia Today, yang lantas meminta pihak Ukraina menjawab 10 pertanyaan guna membuktikan komitmennya melakukan penyelidikan yang berimbang.

Antonov mengkritik negara-negara Barat yang langsung melompat pada kesimpulan hanya "24 jam setelah kecelakaan" sementara bukti-bukti sama sekali tidak tersedia.

"Mereka mencoba menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa kami bertanggung jawab atas kecelakaan itu. Ini sangat aneh! Tanpa bukti, rekan-rekan saya dari media Barat ingin menemukan seseorang yang bertanggung jawab atas kecelakaan itu," kata Antonov. "Di mata saya, ini adalah bagian dari perang informasi yang telah dimulai terhadap Federasi Rusia dan angkatan bersenjatanya."

Ketimbang memanfaatkan insiden itu sebagai dalih untuk menyalahkan tanpa dasar salah satu pihak, bencana di atas langit Ukraina itu semestinya digunakan sebagai suatu kemungkinan memulai kembali kerjasama untuk "mencegah tragedi serupa di masa depan."

"Kalau saya, [tragedi] ini tidak akan saya gunakan sebagai kesempatan untuk menyalahkan siapapun. Saya hanya ingin memunculkan beberapa pertanyaan bagi rekan-rekan saya di angkatan bersenjata Ukraina," kata Antonov. "Saya berharap mereka akan berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Hal ini akan menjadi kesempatan yang baik bagi kita untuk menyadari di mana kita berada, apakah ada kemungkinan bagi kita untuk memuali kembali kerjasama dan mencari yang benar-benar bertanggung jawab atas tragedi tersebut."

"Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu dapat membantu kita menemukan kesempatan untuk mencegah tragedi serupa di masa depan," katanya.

Berikut adalah 10 pertanyaan yang diajukan pemerintah Rusia pada rezim Kiev dan Barat:

1. Setelah tragedi itu, pihak berwenang Ukraina, secara alamiah, menyalahkan hal itu pada pasukan pertahanan diri. Apa dasar tuduhan ini?

2. Dapatkah pihak Kiev menjelaskan secara rinci, bagaimana mereka menggunakan peluncur rudal Buk di zona konflik? Mengapa sistem ini ditempatkan di sana, di paling depan, mengingat pasukan pertahanan diri tidak memiliki pesawat apapun?

3. Mengapa pemerintah Ukraina tidak mengpayakanuterbetuknya komisi internasional? Kapan komisi tersebut akan mulai bekerja?

4. Akankah Angkatan Bersenjata Ukraina mengizinkan penyelidik internasional melihat persediaan rudal udara-ke-udara dan permukaan-ke-udara mereka, termasuk yang digunakan pada peluncur SAM?

5. Apakah komisi internasional memiliki akses untuk melacak data dari sumber terpercaya mengenai gerakan pesawat tempur Ukraina di hari tragedi itu?

6. Mengapa pengendali lalu lintas udara Ukraina membolehkan pesawat itu menyimpang dari rute biasanya ke utara, menuju "zona operasi anti-teroris"?

7. Mengapa wilayah udara di atas medan perang tidak ditutup bagi penerbangan sipil, terutama lantaran karena kawasan itu tidak sepenuhnya dicakup oleh sistem navigasi radar?

8. Bagaimana komentar resmi pihak Kiev komentar terhadap laporan di media sosial, yang diduga disebar oleh pengendali lalu lintas udara berkewarganegaraan Spanyol yang bekerja di Ukraina, bahwa ada dua pesawat militer Ukraina yang terbang mengapit Boeing 777 di atas wilayah Ukraina?

9. Mengapa Layanan Keamanan Ukraina mulai bekerja dengan rekaman komunikasi antara menara kontrol lalu lintas udara dengan kru Boeing dan dengan sistem penyimpanan data dari radar Ukraina tanpa menunggu penyelidik internasional?

10. Pelajaran apa yang dipetik Ukraina dari kejadian serupa pada 2001, ketika pesawat Tu-154 Rusia jatuh di Laut Hitam? Saat itu, pihak berwenang Ukraina membantah keterlibatan Angkatan Bersenjatanya sampai terdapat bukti tak terbantahkan bahwa pihak Kiev secara resmi terbukti bersalah.

Rusia: "MH-17 Dijatuhkan CIA"

Bangkai pesawat (RT)
Bangkai pesawat (RT)

Rusia menyebut bahwa jatuhnya Malaysia Airlines bernomor penerbangan MH-17 merupakan ulah rezim Ukraina-dengan bantuan badan intelijen AS, CIA.

Sehari setelah tragedi mengerikan yang menewaskan 298 orang itu, saluran televisi Channel One milik Rusia menayangkan program yang memberitahu para pemirsanya bahwa seluruh kejadian itu dimotori Amerika Serikat, khususnya CIA.

Sebuah dokumen menunjukkan bahwa AS berencana melakukan hal sama selama Krisis Misil Kuba pada 1962, yang diperlihatkan dalam grafik layar penuh. Para pemirsa karenanya memahami bahwa "AS merencanakan semua itu lantaran pemerintah Ukraina tidak cukup canggih untuk merencanakan semua itu," papar siaran itu.

Menurut Channel One, pertumbuhan ekonomi Rusia yang terbilang cepat serta kemajuan dari apa yang disebut negara-negara BRIC (Brasil, Rusia, India, dan China) mendorong AS untuk berupaya merusak perekonomian Rusia. Selain pula dikarenakan sikap pemerintah Rusia yang belakangan acapkali vis-a-vis dengan kebijakan dan pandangan politik AS.

Menjatuhkan pesawat penumpang sipil seperti Boeing 777-200 MH-17 milik Malaysia Airlines karenanya menjadi opsi paling menguntungkan untuk "menjatuhkan" citra Rusia di mata internasional serta mengurangi kredibilitas politik dan ekonominya. Rusia, lanjutnya, merupakan pemimpin negara-negara BRIC, kendati menurut Dana Moneter Internasional, perekonomiannya lebih kecil dari China dan Brasil, serta hanya sedikit lebih besar dari India.

Rusia Berjanji untuk Memberikan Respon yang Sepadan atas Ekspansi NATO

Rusia Berjanji untuk Memberikan Respon yang Sepadan atas Ekspansi NATO

Presiden Rusia Vladimir Putin telah berjanji untuk menanggapi ekspansi NATO di perbatasan Rusia di tengah ketegangan dengan aliansi Barat atas krisis yang sedang berlangsung di Ukraina.

Putin membuat pernyataan pada hari Selasa (22/7/14) dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan Federasi Rusia di Moskow.

"Kami akan memberikan respon yang memadai dan sepadan untuk ekspansi NATO di perbatasan Rusia, dan kami akan menyiapkan arsitektur pertahanan rudal global dan membangun persenjataan defensif," kata Putin, menambahkan bahwa aliansi militer Barat secara terang-terangan membangun pasukannya di Eropa Timur, termasuk Laut Hitam dan daerah Laut Baltik."

Menurut Putin, militer NATO penumpukan pasukannya dekat perbatasan Rusia tidak hanya untuk pertahanan sebagaimana yang klaim aliansi Barat, tetapi mereka sedangan mengambil kebijakan ofensif."

NATO juga telah memperkuat patroli udara di atas wilayah Baltik, dengan pesawat yang dilengkapi radar di atas wilayah Polandia dan Rumania.

Bulan lalu, aliansi militer Barat mengadakan latihan militer di dekat perbatasan barat Rusia. Hampir 5.000 tentara dan 800 kendaraan militer dari 10 negara anggota NATO, termasuk Amerika Serikat, Inggris dan Kanada berpartisipasi dalam latihan tersebut.

Citra Satelit AS Tunjukkan Tentara Ukraina Tembak Jatuh MH-17

Bangkai pesawat MH-17 Malaysia (RT)
Bangkai pesawat MH-17 Malaysia (RT)

Mantan reporter Associated Press terkenal, Robert Parry, diberitahu oleh sumber intelijen bahwa Amerika Serikat memiliki citra satelit yang menunjukkan pasukan Ukraina sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam menembak jatuh pesawat Malaysia Airlines bernomor penerbangan MH-17. Demikian ungkap pakar politik internasional, Paul Joseph Watson.

Di tengah tak adanya upaya penyelidikan yang tepat, retorika media [Barat] selama beberapa hari terakhir telah secara tegas menunjukkan jarinya untuk menyalahkan jatuhnya pesawat pada pihak pemberontak Ukraina yang didukung Rusia. Namun, sumber Parry menuturkan kisah yang berbeda.

"Saya diberitahu salah satu sumber, yang telah memberikan informasi akurat mengenai hal-hal serupa di masa lalu, bahwa badan-badan intelijen AS memiliki citra satelit terperinci yang tampaknya merupakan baterai rudal yang telah meluncurkan rudal nahas itu; namun baterai itu tampaknya berada di bawah kendali pasukan pemerintah Ukraina yang mengenakan apa yang tmpak seperti seragam Ukraina," kata Parry.

Sumber itu, lanjut Parry, mengatakan bahwa analis CIA tetap tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa itu sebenarnya tentara pemberontak Ukraina timur dalam seragam yang sama, namun penilaian awalnya adalah bahwa pasukan itu adalah tentara Ukraina. "Ada pula saran bahwa tentara yang terlibat tidak disiplin dan kemungkina sedang mabuk, karena citra itu menunjukkan apa yang tampak seperti botol bir yang tersebar di sekeliling situs itu," kata sumber tersebut.

Meskipun pers arus utama telah berusaha mencemooh setiap pertanyaan terhadap narasi resmi bahwa pemberontak Ukraina bertanggung jawab atas insiden itu dengan menyebutnya sebagai "teori konspirasi" membosankan, Parry tentu tidak dapat dianggap sebagai orang sinting yang diberi peran kunci dalam meliput skandal Iran-Contra untuk Associated Press dan Newsweek. Memang, karya investigatif Parry mengenai masalah-masalah intelijen, yang membuatnya dianugerahi George Polk Award, menunjukkan bahwa informasi yang diberikan sumbernya layak mendapat perhatian serius.

AS dan pihak berwenang Ukraina terus bersikeras bahwa kaum separatis "yang didukung Moskow" (ini juga sebenarnya masih bersifat tuduhan) bertanggung jawab atas tragedi tersebut. Keduanya menyatakan bahwa sistem rudal Buk digunakan untuk menjatuhkan pesawat itu.

Namun, tuduhan itu dibantah Jaksa Agung Ukraina, Vitaliy Yarema, yang menyatakan, "Pihak militer mengatakan pada presiden setelah pesawat penumpang itu ditembak jatuh bahwa kaum teroris tidak memiliki sistem rudal Buk kami."

Dalam perkembangan terkait, para pakar audio yang yang melakukan penelitian terhadap keaslian rekaman yang dirilis otoritas Ukraina yang mengimplikasikan pihak pemberontak sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan rudal pada MH-17, menyimpulkan bahwa rekaman itu hasil rekayasa.

"Fragmen kedua dari rekaman itu terdiri dari tiga potongan, namun disajikan sebagai rekaman audio tunggal. Analisis spektral dan waktu menunjukkan bahwa dialog itu dipotong-potong dan kemudian dirakit. Jeda pendek dalam rekaman itu sangat indikatif: arsip audio telah megawetkan tanda waktu yang menunjukkan bahwa dialog itu dirakit dari berbagai episode, kata para pakar," lapor Itar-Tass.

Pengiriman Gas ke Eropa Bisa Terhenti

Peta gas Rusia ke Eropa.jpg
Peta gas Rusia ke Eropa.jpg

Rusia mengatakan, kegagalan Ukraina membayar utang gas bisa mempengaruhi pengiriman gas ke negara-negara Eropa lainnya.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan hari Sabtu (26/4/14) bahwa Moskow mungkin terpaksa memutus pasokan gas alam ke Eropa karena Ukraina tak jua membayar utang gasnya.

Menurut Novak, utang Ukraina saat ini pada Rusia lebih dari USD 2.230 milyar dan angka ini belum termasuk 1,3 milyar untuk pengiriman yang dilakukan bulan April.

Kementerian Energi Rusia juga mengatakan, utang Ukraina ini bisa mengganggu pengiriman gas ke Eropa Tenggara.

Rusia memasok 50 % gas Ukraina dan 30 % dari total gas Eropa lewat saluran pipa utama di wilayah Ukraina.

Komentar Menteri Energi Rusia itu muncul setelah Novak bersama CEO Gazprom Rusia, Alexei Miller dan pejabat Rusia lainnya bertemu dengan perwakilan dari Bosnia dan Herzegovina, Makedonia dan Moldova.

Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas cara-cara transportasi gas lain untuk konsumen Eropa, terutama proyek South Stream. Proyek senilai 45 milyar dolar ini akan mengangkut gas dari Rusia ke negara-negara anggota Uni Eropa Bulgaria, Kroasia, Yunani dan Hungaria serta Serbia melalui Laut Hitam.

Jalur ini akan dibuka pada tahun 2015 dan akan menyediakan 64 milyar m3 gas atau 15 % kebutuhan gas Eropa.

Rusia Pertanyakan Penumpukan Pasukan NATO

Valery Gerasimov, Komandan AD Rusia.jpg
Valery Gerasimov, Komandan AD Rusia.jpg

Seorang komandan militer Rusia mempertanyakan penyebaran kapal dan pasukan NATO di dekat perbatasan Ukraina.

Kepala Rusia Staf Umum Jenderal Valery Gerasimov kepada Kepala Staf AS Jenderal Martin Dempsey dalam percakapan telepon hari Jumat (25/4/14) juga mengatakan bahwa Ukraina mengerahkan sekelompok besar pasukan di perbatasan dengan Rusia.

"Di sisi perbatasan Ukraina dengan Rusia, pasukan perbatasan telah beroperasi dan dirancang untuk kegiatan subversif," ungkap Kementerian Pertahanan Rusia dalam sebuah pernyataan.

Gerasimov juga menyuarakan keprihatinan atas penyebaran pasukan Kiev ke daerah timur Ukraina dalam operasi kontra teroris yang telah menewaskan korban sipil.

Setidaknya lima pengunjuk rasa anti pemerintah Kiev tewas di kota Slavyansk, Ukraina timur setelah pihak berwenang Kiev mengirim tank dan kendaraan lapis baja untuk menghadapi demo penduduk setempat.

Sementara itu, Gerasimov juga menginformasikan Dempsey tentang manuver pelatihan militer baru Rusia serta penerbangan yang direncanakan jet Rusia di wilayah udara yang berbatasan dengan Ukraina.

Komandan Rusia itu juga mendesak rekannya agar mempertimbangkan keprihatinan Rusia dan mengambil langkah-langkah de-eskalasi situasi di Ukraina dan perbatasan Rusia.

Gelombang pertama tentara AS tiba di Polandia dan Latvia setelah pengumuman hari Selasa (22/4/14) bahwa Pentagon akan mengirimkan sekitar 600 tentara ke Polandia dan tiga negara Baltik untuk latihan infanteri.

Rusia Peringatkan Perang Saudara di Ukraina

Demo pro Rusia
Demo pro Rusia

Rusia memperingatkan Kiev, setiap penggunaan kekuatan apapun di Ukraina timur,-tempat pro-Kremlin yang menyita gedung-gedung pemerintah di beberapa kota,-, akan berujung negara itu ke dalam perang saudara.

"Kami menyerukan untuk segera menghentikan aksi dan persiapan militer yang penuh dengan resiko," kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan Selasa, 08/04/14.

Peringatan itu datang setelah para aktivis pro-Rusia menyita gedung-gedung negara di kota-kota timur termasuk Kharkiv, Lugansk dan Donetsk. Mereka juga menyatakan kemerdekaan dan bersumpah untuk memilih bergabung dengan Rusia.

Kiev menuduh Rusia mengobarkan kerusuhan, sementara Washington memperingatkan Kremlin untuk menghentikan upaya "mengacaukan Ukraina", sebuah tuduhan yang ditepis oleh Moskow.

Kementerian luar negeri Rusia pada Selasa ini juga merilis informasi bahwa Ukraina telah mengirim pasukan keamanan internal dan relawan dari Garda Nasionalnya termasuk pejuang dari Pravy Sektor (Sektor Kanan) kelompok ultra-nasionalis, di Ukraina tenggara termasuk wilayah Donetsk.

Rusia juga menyebut, Ukraina menyebar agen swasta AS (BLACKWATER) yang berpakaian seperti pasukan khusus Ukraina. Dikatakan tentara bayaran itu datang dari perusahaan keamanan, Greystone Ltd.

Menurut informaso Moskow, Ukraina telah menyebarkan pasukan penindasan itu dan menggunakan kekuatan dari penduduk tenggara negara untuk menentang kebijakan pemerintah Kiev saat ini.

"Para aktor dan pelaku provokasi ini, harus bertanggungjawab besar yang telah menciptakan ancaman bagi hak-hak, kebebasan dan kehidupan yang damai warga dan stabilitas negara Ukraina," kataya.

Kementerian merilis pernyataan itu di situsnya menyusul pembicaraan Senin antara Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Menlu Ukraina Andriy Deshchytsya.

Rusia Remehkan Ancaman Amerika

(RT)
(RT)

Deputi menteri luar negeri Rusia meremehkan peringatan AS terkait rencana kesepakatan minyak Rusia dan Iran sambil menegaskan bahwa Moskow tidak akan terintimidasi ancaman tersebut.

Peningkatan hubungan perdagangan Rusia-Iran merupakan proses alami yang tidak menciptakan tantangan politik atau ekonomi bagi siapa pun, kata Sergei Ryabkov, Rabu (9/4/14).

Menurut kesepakatan itu, Rusia akan membeli minyak Iran sebanyak 500.000 barel per hari sebagai ganti penjualan barang ke Iran.

Pada hari Selasa (8/4/14), Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengatakan bahwa Washington bisa menjatuhkan sanksi jika Rusia dan Iran menggolkan kesepakatan minyak itu.

Tapi Ryabkov menekankan tekad Rusia akan mengembangkan hubungan dengan Iran dan meremehkan ancaman AS tersebut.

"Kami tidak berpikir bahwa setiap sanksi sepihak AS, tidak peduli siapa yang menjadi target, adalah sah. Dan kami menolak sikap [AS]  itu," katanya.

Iran dan Rusia menandatangani dua transaksi untuk meningkatkan perdagangan bilateral pada bulan Februari 2013. Tehran dan Moskow menggunakan rial dan rubel dalam pertukaran perdagangan mereka selama dua tahun terakhir.

Awal bulan ini, Menteri Perminyakan Iran, Bijan Namdar Zanganeh mengatakan Republik Islam bertekad meningkatkan volume transaksi ekonomi dengan Rusia dalam kesepakatan jangka panjang.

Kesepakatan barter energi antara Iran dan Rusia itu memicu kemarahan beberapa senator AS.

Rusia: NATO Harus Jelaskan Penumpukan Pasukan di Eropa

Rusia vs NATO.jpg
Rusia vs NATO.jpg

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov meminta NATO menjelaskan rencana barunya meningkatkan kehadiran pasukan militer di Eropa Timur.

Lavrov mengatakan dalam konferensi pers hari Kamis (3/4/14) bahwa negaranya sedang menunggu penjelasan NATO tentang rencana aliansi militer itu mengintensifkan kegiatan di negara-negara Eropa Timur.

"Kami telah bertanya pada Aliansi Atlantik Utara. Kami mengharapkan bukan sekedar jawaban tapi jawaban sepenuhnya yang menghormati aturan yang kita telah koordinasikan, " kata Lavrov setelah perundingan dengan rekannya Kazakh, Yerlan Idrisov.

Menteri Rusia itu mencatat bahwa hubungan Rusia-NATO didasarkan pada aturan tertentu bahwa tidak ada negara yang berhak menyebar pasukan tambahan di negara-negara Eropa Timur.

Menanggapi kritik atas kehadiran pasukan Rusia di sepanjang perbatasan dengan Ukraina, Lavrov mengatakan Rusia berhak memindahkan pasukannya di dalam wilayahnya. Dia menambahkan, pasukan Rusia akan kembali ke basis mereka setelah menyelesaikan latihan militer mereka.

Pernyataan Lavrov muncul setelah para menteri luar negeri NATO mengadakan pertemuan di Brussels awal pekan ini membahas langkah-langkah memperkuat kehadiran militer di negara-negara anggota di Eropa Timur setelah bergabungnya Crimea dengan Rusia.

Langkah-langkah itu termasuk pengiriman tentara dan peralatan NATO untuk sekutunya dan menggelar lebih banyak latihan di wilayah tersebut.

Ketegangan antara kekuatan Barat dan Moskow meningkat setelah Crimea menyatakan kemerdekaannya dalam referendum 16 Maret lalu.

Rusia Tangkap 25 Orang Diduga Agen Ukraina

Rusia dan Gejolak Ukraina.jpg
Rusia dan Gejolak Ukraina.jpg

Dua puluh lima warga Ukraina yang diduga merencanakan serangan teroris di Rusia ditangkap, demikian Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) mengatakan dalam sebuah pernyataan.

FSB menahan perencana serangan teror antara 14 dan 16 Maret di bagian selatan dan tengah negara itu, termasuk di Rostov , Volgograd, Tver, Orel, Belgorod, Kalmykia dan wilayah Tatarstan.

"Dua puluh lima orang diidentifikasi dan ditahan akibat dari tindakan yang dilakukannya sesuai dengan informasi yang diperoleh dari Sektor kanan Maidan’ untuk melakukan aksi sabotase dan teroris di wilayah Rusia antara 14 - 16 Maret 2014 di tujuh wilayah Rusia," kata kantor berita Rusia Ria Novosti mengutip FSB, Kamis (3/4/14).

Sebuah sumber di pasukan keamanan kepada RT, setidaknya tiga dari mereka diberi perintah oleh Dinas Keamanan Ukraina (SBU) sebelum dikirim ke negara itu.

Sumber itu menambahkan, mereka yang ditahan bekerja di Rusia sebagai karyawan dari sebuah perusahaan Ukraina dan ditugaskan untuk mengambil foto penyebaran dan gerakan militer Rusia di wilayah-wilayah yang berbatasan dengan Ukraina.

Mereka juga dituduh membuat kontak dengan kelompok-kelompok ekstremis di negara ini.

Namun, SBU mengecam klaim Moskow sebagai "omong kosong."

Pengumuman itu terjadi beberapa jam setelah SBU mengatakan, agen-agen keamanan Rusia hadir di markas SBU membantu mantan pejabat Ukraina di Kiev selama protes anti - pemerintah pada bulan Februari yang menewaskan puluhan orang.

Militer Rusia Mulai Latihan Perang Nuklir

Rudal nuklir Rusia (http://www.independent.co.uk/)
Rudal nuklir Rusia (http://www.independent.co.uk/)

Saat perhatian Barat tercurah pada penumpukan pasukan Rusia dekat perbatasan Ukraina, pemerintah Moskow memulai latihan ofensif nuklir besar-besaran pada hari Kamis lalu (27/3).

Menurut harian Rusia, Nezavisimaya Gazeta, Pasukan Rudal Strategis Rusia memulai latihan masif tiga hari yang melibatkan 10 ribu tentara dan 1000 keping peralatan dari lebih 30 unit. Tujuan utama latihan perang itu, menurut laporan itu--yang mengutip beberapa perwira militer senior Rusia--adalah untuk memastikan Pasukan Rudal Strategis Rusia memiliki kesiapan yang cukup untuk melakukan operasi ofensif yang melibatkan penggunaan rudal nuklir secara besar-besaran dan simultan.

Global Security Newswire yang sebelumnya mengungkapkan cerita tentang latihan nuklir, juga mengutip artikel Nezavisimaya Gazeta. GSN menggambarkan latihan itu "sebagai praktik serangan nuklir berskala besar". Ditambahkan, "Para peserta latihan diperintahkan untuk menempatkan dan menyiapkan unit penembakan-rudal untuk meluncurkannya, dan menggunakan berbagai fungsi administratif dan pendukung operasi."

Seiring menurunnya kemampuan militer konvensional Rusia setelah runtuhnya Uni Soviet, Moskow pun semakin bergantung pada operasionalisasi arsenal nuklirnya. Ini tercermin dalam rangkaian dokumen keamanan Rusia. Sebagai contoh, konsep keamanan nasional Rusia pada 1997 menyatakan bahwa Rusia akan menggunakan senjata nuklirnya "dalam kasus ancaman terhadap keberadaan Federasi Rusia", entah ancaman itu datang dalam bentuk senjata nuklir atau kekuatan militer konvensional superior.

Konsep ini selanjutnya diturunkan dalam doktrin militer Rusia pada 2000, yang pertama kali dirilis selama kepresidenan Vladimir Putin. Dokumen ini mengatakan bahwa Rusia akan menggunakan senjata nuklir "dalam menanggapi agresi besar-besaran menggunakan senjata konvensional dalam situasi kritis terhadap keamanan nasional Federasi Rusia".

Ini membuka kemungkinan bahwa Rusia akan menggunakan senjata nuklirnya jika diserang. Doktrin yang sama lebih lanjut mencatat bahwa Rusia berhak menggunakan senjata nuklir dalam menanggapi penggunaan segala jenis senjata pemusnah massal terhadap dirinya.

Latihan itu barangkali memicu kekhawatiran besar Barat, khususnya Washington. Melalui latihan itu, Rusia mengirimkan pesan atas tekadnya terhadap peristiwa di Ukraina. Namun, Nezavisimaya Gazeta mengatakan bahwa latihan nuklir saat ini tidak berhubungan dengan krisis di Ukraina.

Sebagai bukti, ditunjukkan bahwa pada bulan Desember tahun lalu, komandan Pasukan Rudal Strategis Rusia telah mengatakan bahwa pasukannya sesekali akan melakukan latihan besar-besaran dan rumit selama 2014. Darinya, harian Rusia itu menyimpulkan bahwa latihan tersebut telah direncanakan selama berminggu-minggu dan benar-benar tidak berhubungan dengan ketegangan Ukraina.

Pada saat yang sama, artikel itu menututp ulasannya dengan catatan bahwa latihan itu ditujukan untuk menguji kesiapan tempur pasukan strategis Rusia, terutama dalam konteks "realitas saat ini di tengah situasi dunia".

Prof. Chossudovsky: "Sanksi Hantam Rusia juga Uni Eropa!"

Eropa runtuh (http://it.adviseonly.com)
Eropa runtuh (http://it.adviseonly.com)

Negara-negara Eropa sedang menuruti kemauan AS ihwal sanksi terhadap Rusia. Namun, saat menyangkut perekonomiannya, mereka mengatakan tidak ingin sanksi tersebut, ujar Prof. Michel Chossudovsky, Direktur Pusat Penelitian Globalisasi, sebagaimana mengutip Russia Today (27/3).

Sanksi itu, katanya sengit, merupakan pedang bermata dua karena Uni Eropa mengimpor lebih dari sepertiga gas dan bahan bakar dari Rusia. "Akibatnya, jika sanksi dikenakan pada Rusia, ini akan segera menghantam balik... langsung ke Uni Eropa, karena Uni Eropa tidak memiliki alternatif langsung selain membeli bahan bakar dan gas alam dari Federasi Rusia," papar Chossudovsky.

Sanksi itu simbolis dan pada dasarnya mereka sangat arogan dalam berdiplomasi, lanjutnya, demi menarget individu dalam pemerintah Rusia--Anda tidak dapat melakukan perjalanan, aset Anda dibekukan, dan sebagainya. "Ini lebih dari sekadar pelecehan... bukan sesuatu yang akan menghambat negara Rusia, negara besar dengan ekonomi besar untuk mengambil tindakan dalam hal itu. Ini hanya menunjukkan fakta bahwa Washington putus asa untuk menemukan solusi," ujar Chossudovsky.

Washington, katanya, tidak dapat menerapkan sanksi yang berarti, sebagaimana yang dilakukannya pada negara-negara miskin, mungkin di Afrika atau Amerika Latin, atau mungkin di Asia Tenggara dalam kasus Myanmar. "Mereka tidak dapat melakukannya pada Rusia atau China, karena sama sekali tidak berfungsi," tegasnya.

"Kita harus ingat bahwa ekonomi Barat yang sangat rapuh, karena di satu sisi, bergantung pada impor energi," paparnya. Cadangan minyak dan gas alam Barat, seperti AS, Kanada, dan sebagainya, lanjut Chossudovsky, sangat kecil dalam kaitannya dengan yang ada di Timur Tengah dan di negara-negara penghasil energi lain seperti Rusia.

"Sekarang, ambil kasus Cina yang menadi pemasok utama barang-barang konsumsi bagi sebagian besar negara-negara Barat," imbuhnyaq. "Made in China" ada di mana-mana, di pusat perbelanjaan dan department store.

"Dan bayangkan jika sanksi yang dikenakan pada China untuk satu atau alasan lain. Nah, China akan mengatakan, tidak ada lagi komoditas 'made in China' untuk Amerika Serikat, yang akan segera menciptakan kekacauan," paparnya. Setidaknya dalam waktu dekat, yakin Chossudovsky, semua itu akan menciptakan kekacauan dalam hal penyediaan barang-barang konsumsi bagi jutaan orang," pungkas Chossudovsky.

Rusia: Sanksi Baru Uni Eropa Tidak Realistis

Sergey Lavrov, Menlu Rusia
Sergey Lavrov, Menlu Rusia

Rusia menggambarkan sanksi baru yang dikenakan Uni Eropa sebagai aksi tidak realistis di tengah dukungan Uni Eropa untuk mengirim misi pemantauan ke Ukraina.

Pada hari Sabtu (22/3/14), Kementerian Luar Negeri Rusia mengeluarkan pernyataan yang mengecam sanksi ynag dijatuhkan Uni Eropa terhadap 12 tokoh Rusia dan Crimea.

Dalam pernyataan itu, juru bicara Kemenlu Rusia, Alexander Lukashevich, menekankan hak Moskow untuk merespon sanksi tersebut.

Sanksi itu ditetapkan hari Jumat (21/3/14). Uni Eropa menambahkan nama 12 pejabat Rusia dan Crimea ke dalam list mereka yang akan dibekukan asetnya dan dilarang melakukan perjalanan ke luar negri. Sejauh ini, dalam list itu tercantum nama 33 orang.

"Sayang sekali Dewan Eropa membuat keputusan yang tidak realistis...Kami percaya sudah waktunya kembali ke platform kerjasama pragmatis yang mencerminkan kepentingan negara kita. Tentu saja, Rusia berhak memberi jawaban yang sebanding dengan tindakan yang sudah diambil [Dewan Eropa] itu," ungkap pernyataan itu.

Dalam pernyataan terpisah, Kementerian Luar Negeri Rusia menyambut baik keputusan Uni Eropa untuk mengirim misi pemantau dari Organisasi Keamanan dan Kerjasama Eropa (OSCE) ke Ukraina dan menyatakan harapannya bahwa misi itu bisa membantu menyelesaikan krisis intern Ukraina.